Selasa, 30 April 2013

Setiap Anak Lahir Dalam Keadaan Fitrah


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup didunia ini. Anak adalah amanat Allah Subhanahu Wata’ala kepada kita, masing-masing dari kita berharap anaknya menjadi anak yang baik, dan maka dari itu di-butuhkan optimalisasi tanggung jawab dan peran dari orang tua. Meskipun pada dasarnya seorang anak lahir di atas fitrah, akan tetapi ini tidak berarti kita membiarkannya tanpa pengarahan dan bimbingan yang baik dan terarah, karena sesuatu yang baik jika tidak dijaga dan dirawat, ia akan menjadi tidak baik akibat pengaruh faktor-faktor eksternal. Pendidikan dan pengarahan yang baik terhadap anak sebenarnya sudah harus dimulai sejak anak tersebut belum lahir bahkan sebelum anak tersebut ada di dalam kandungan.
Sudah banyak hadits yang menyebutkan hal tersebut, bahwa anak lahir dalam keadaan fitar kemudian lingkungan dan pengajaranlah yang nantinya akan mempengaruhi fitrah tersebut.
Dengan demikian, makalah ini akan membahas hadits – hadits yang ada kaitannya dengan setiap anak yang lahir dalam keadaan fitah.

  1. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Bagaimana perspektif hadits tentang Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah?
C.     Tujuan Penulisan.
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui perspektif hadits tentang Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah?
D.    Manfaat Penulisan.
Makalah ini nantinya diharapkan mampu memberi manfaat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis, hasil makalah ini bermanfaat pada kajian teoritis. Dan secara praktis, makalah ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahui bagi pembaca.
















BAB II
PEMBAHASAN

  1. Hadits Tentang Fitrah Anak.
Hadits I
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيسَى قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ثُمَّ يَقُولُ اقْرَءُوا { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ }
Artinya :
“Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Lalu dia berkata; Bacalah oleh kalian firman Allah yg berbunyi: '…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah itulah agama yg lurus.' (QS. Ar Ruum (30): 30)”
Takhrij Hadits
Hadits tersebut termaktub dalam kitab Shahih Muslim no 4804, Sanad hadits ini adalah marfu’, muttashil dan derajatnya adalah shahih.
Butir – butir Kandungan Hadits.
Manusia lahir dibumi ini dalam keadaan suci dan sudah membawa fitrah masing – masing.


Hadits II,
أخرج البخاري ومسلم وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن مردويه عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ» ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اِقْرَأُوا اِن ْشِئْتُمْ : {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ القَيِّمُ}
Artinya :
“Dari Abu Hurairoh, ia berkata, Rasulallah saw bersabda, “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani, dan Majusi, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah padanya terdapat telinga yang terpotong atau kecacatan lainnya?. Kemudian Abu Hurairoh membaca, Jika engkau mau hendaklah baca, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus”
Takhrij Hadits
Hadits tersebut ditakhrij oleh Bukhori, Muslim, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Mardawaeh, dan hadits ini termaktu dalam kitab Shahih Bukhori, Sanad hadits ini adalah marfu’, muttashil dan derajatnya adalah shahih.
Butir – butir Kandungan Hadits.
Manusia yang baru lahir sebenarnya sudah membawa fitrah keagamaan yang lurus, namun kemudian orang tuanya lah yang menjadikan agama mereka  islam, yahudi, nasrani dengan pendidikan, pengalaman dan kebiasaan yang diberikan oleh orang tua.
Hadits III
أخرج عبد الرزاق وابن أبي شيبة وأحمد والنسائي والحاكم وصححه وابن مردويه عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَ سَرِيَّةً يَوْمَ خَيْبَرَ فَقَاتَلُوا الْمُشْرِكِينَ، فَأَمْضَى بِهِمُ الْقَتْلُ إِلَى الذُّرِّيَّةِ، فَلَمَّا جَاءُوا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا حَمَلَكُمْ عَلَى قَتْلِ الذُّرِّيَّةِ؟» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانُوا أَوْلَادَ الْمُشْرِكِينَ، قَالَ: «وَهَلْ خِيَارُكُمْ إِلَّا أَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ؟ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ نَسَمَةٍ تُولَدُ إِلَّا عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهَا لِسَانُهَا»أخرج عبد الرزاق وابن أبي شيبة وأحمد والنسائي والحاكم وصححه وابن مردويه
Artinya :
“Dari Al-Aswad bin Sura’i, bahwasanya Rasulallah saw pernah mengutus Sariyyah ke Khaibar, lalu mereka membunuh orang-orang musyrik, lalu sampailah pembunuhan mereka kepada keturunannya. Ketika mereka datang, Nabi bertanya, apa yang mendorong kalian membunuh keturunannya? Mereka menjawab (utusan Sariyyah) Yaa Rasulallah, mereka itu anak-anak orang musyrik. Rasulullah bertanya, apakah kalian hanya memilih orang-orang musyrik? Demi diriku yang ada pada kekuasaaNya tidaklah suatu jiwa dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Sehingga lingkungannya yang merubah fitrahnya itu.”
Tahrij Hadits
Hadits ditakhrij oleh ‘Abdul Rozak, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Nasa’i, Hakim dan dishohihkan olehIbnu Mardawaeh
Butir – Butir kandungan Hadits
Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan membawa jiwa baik, namun kemudian jika mereka berubah sebenarnya lingkungan lah yang memberikan pengaruh pada jiwa mereka.
Hadits IV
أخرج أحمد وابن ماجه وابن حبان والطبراني وابن مردويه عَنْ حَبَّةَ وَسَوَاءٍ اِبْنَيْ خَالِدٍ أَنَّهُمَا أَتَيَا النَبِيَّ صلى الله عليه وسلم : وَهُوَ يُعَالِجُ بِنَاءَ ، فَقَالَ لَهُمَا : هَلُمَّ ، فَعَالِجَا مَعَهُ ، فَعَالِجَا فَلَمَّا فَرَغَ ، أَمَرَ لَهُمَا بِشَيْءٍ وَقَالَ لَهُمَا : « لَا تَيْأَسَا مِنَ الرِّزْقِ مَا تَهَزْهَزَتْ رُءُوسُكُمَا. فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا أَحْمَرَ لَيْسَ عَلَيْهِ قِشْرَةٌ ثُمَّ يَرْزُقُهُ اللهُ » . أخرج أحمد وابن ماجه وابن حبان والطبراني وابن مردويه
Artinya :
“Dari Habbah dan Sawa yaitu dua anak Kholid wahwa keduanya menemui Nabi dalam keadaan memperbaiki bangunan. Lalu Nabi berkata kepada keduanya, kemarilah, maka keduanyapun memperbaiki bangunan bersama Nabi. Ketika selesai, Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya dan bersabda, janganlah kalian berputus asa dari rizqi yang bergejolak di kepala kalian. Karena tidaklah seorang anak dari umat ini dilahirkan kecuali dalam keadaan merah, tidak ada nasib buruk baginya, kemudian Allah memberikan rizki kepadanya.”
Tahrij Hadits
Hadits ini ditakhrij oleh Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Thobroni, dan Ibnu Mardawaeh.
Butir – Butir Kandungan Hadits
setiap anak yang lahir memiliki fitrah untuk berkembang dan allah sudah memberikan jalan rizkinya tergantung bagaimana usaha mereka untuk memperoleh rizki yang telah diitetapkan kepadanya.





BAB III
ANALISIS HADITS
  1. Anilisis hadits 1 kaitannya dengan fitrah manusia sejak lahir.
Anak lahir ke dunia ini sudah membawa fitrahnya, ada yang menafsirkan bahwa fitrah ini adalah fitrah keagamaan yaitu agama islam, kemudian jika anak tersebut akhirnya beragama selain islam itu adalah pengaruh dari orang tua dan lingkungannya. 
sebenarnya labih pas jika arti kata “Fitrah” lebih dimaknai sebuah “POTENSI”  jika dikaitkan dalam dunia pendidikan.  Sehingga makna hadits Nabi “setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci” secara lebih luas dimaknai sebagai “Semua Anak Lahir di Dunia lahir dalam keadaan Membawa Potensi”. Setelah dimaknai seperti inilah baru kita bisa menentukan perjalanan hidup manusia di masa berikutnya. Kalau memakai kata “Suci” pemaknaan yang banyak diartikan orang adalah bahwa anak itu lahir atau manusia itu lahir kedunia pada awalnya memang adalah seorang makhluk yang baik. Apalagi di dalam Islam dikatakan tidak ada kewajiban dan dosa bagi anak yang belum dewasa. Seolah-olah anak lahir sudah membawa potensi menjadi baik. Lebih jauh lagi jika dimaknai dengan “Potensi” ini akan berlainan tapi tidak berlawanan. Maksudnya jika berlawanan nanti dianggap anak baru lahir itu membawa potensi jelek. Bukan itu maksudnya. Maksud berlainan di sini adalah manusia atau anak yang baru lahir itu berada di tengah-tengah antara potensi yang baik dengan potensi yang buruk.
  1. Anilisis hadits II kaitannya dengan fitrah manusia sejak lahir.
Dalam hadits ini lebih menekankan pada pengaruh pendidikan keluarga pada pembentukan fitah anak. Disini lah peran orang tua sangat penting, karena jika membicarakan pendidikan keluarga secara tidak langsung yang disoroti disini adalah pola asuh yang ditanamkan orang tua untuk mengajarkan berbagai ilmu pada anak. Karena lebih dari 90% waktu anak dihabiskan bersama orang tua di lingkungan keluarga.
Faktor pertama yang mempengaruhi hasil belajar mengajar, jika merujuk pada teks hadis terdahulu adalah lingkungan keluarga, sebagai unit pertama dan institusi pertama anak dipelihara, dibesarkan dan dididik. Lingkungan keluarga di sini memberikan peranan yang sangat berarti dalam proses keberhasilan anak dalam pendidikan. Sebab di lingkungan inilah anak menerima sejumlah nilai dan norma yang ditanamkan sejak awal kepadanya.
Pada masa kecil, keimanan anak belum merupakan suatu keyakinan sebagai hasil pemikiran yang obyektif, tetapi lebih merupakan bagian dari kehidupan alam perasaan yang berhubungan erat dengan kebutuhan jiwanya akan kasih sayang, rasa aman dan kenikmatan jasmaniah. Peribadatan anak pada masa ini masih merupakan tiruan dan kebiasaan yang kurang dihayati.
Peniruan sangat penting dalam kehidupan anak, mulai dari bahasa, mode, adat istiadat dan sebagainya. Hampir semua kehidupan anak berpangkal pada proses peniruan. Misalnya saja, apabila anak-anak itu melihat orang tuannya shalat, maka mereka juga mencoba untuk mengikutinya. Maka dari itu, lingkungan keluarga (rumah tangga) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat dan sikap keberagamaan seseorang.
  1. Anilisis hadits III kaitannya dengan fitrah manusia sejak lahir.
Hadit kedua ini sebenarnya hampir sama dengan hadits datas namun hadits ini cakupnnya lebih luas dimana yang ikut berperan dalam mempengaruhi fitrah seorang anak adalah lingkungan yang luas.
Manusia adalah makhlus sosial, dimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. Dan dalam hal interaksi inilah mereka memperoleh suatu informasi yang akan diserap dan secara tidak langsung akan memberikan pengaruh pada pola pikir mereka. Informasi yang mereka dapatkan inilah juga memberikan pengaruh besar pada fitrah mereka baik fitrah ketuhanan, kepribadian, konsep baik – buruk, nilai benar salah dan lainnya.
  1. Anilisis hadits IV kaitannya dengan fitrah manusia sejak lahir.
Dalam hadits ketiga ini, penafsiran fitah lebih luas yaitu bukan hanya fitrah keagamaan saja namun dalam hal penentuan Qada’ dan Qadar merek, bisa dalam hal jodoh, rizki, hidup dan mati.
Meskipun demikian walaupun mereka sudah membawa fitrah sejak lahir, manusia juga diberi kemampuan oleh Allah untuk berkembang dan menggunakan fikiran mereka untuk mengembangkan fitrah tersebut. Seorang hamba dilarang berputus asa dan hanya pasrah menunggu fitah mereka. Sehingga seorang anak mampu mengembagkan fitrahnya dari dalam diri sendiri sesuai dengan naluri dan fikiran mereka.










BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan.
Anak yang lahir pasti dalam keadaan suci dan mereka sudah membawa fitrah masing – masing. Fitah adalah sesuatu yang ada dalam jiwa seseorang dan memerlukan proses pendidikan untuk mengembangkan fitrah tersebut. Fitrah ini mencakup fitrah keberagamaan, kemampuan, Qada’ dan Qadar anak.
Lingkungan keluarga dan lingkungan secara umum (sekolah, masyarakat dan negara)  memiliki peran yang besar dalam mengembagkan fitrah anak, terutama lingkungan keluarga, orang tua karena pendidikan pertama seorang anak terjandi dilingkungan kelurga.
Selain itu manusia juga diberi kemampuan untuk berkembang dengan menggunakan pikiran mereka. Dengan itu seorang anak akan mampu mengembangkan fitrah mereka dari dalam diri sendiri.

Manajemen Perencanaan Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang.
Masyarakat senantiasa berubah dan berkembang. Perubahan dan perkembangan itu selain disebabkan disamping dinamika masyarakat itu sendiri juga diseebabkan oleh penemuan – penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena sekolah merupakan bagian dari masyarakat, maka wajar perubahan – perubahan yang terjadi di masyarakat memberikan dampak tertentu terhadap sekolah. Perubahan – perubahan yang terjadi dalam masyarakat menyebabkan timbul dan bertambahnya kebutuhan tertentu dalam sekolah, misalnya, struktur sekolah, teknologi sekolah, dan hubungan antara guru dengan siswa. Dengan terjadinya perubahan dalam berbagai sektor pendidikan di sekolah, mau tidak mau menuntut kebutuhan sekolah yang baru sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi, misalnya metode dan alat bantu dalam mengajar.
Dengan demikian untuk mengikuti perubahan – perubahan itu sudah tentu sekolah terus – menerus berusaha menjelaskan kurikulumnya agar senantiasa releven dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, terutama masyarakat sekitarnya. Dalam konteks inilah sekolah perlu terus menerus melakukan perencanaan kembali, atau merevisi kurikulum yang sudah ada, sehingga kurikulum tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi para siswa dan sesuai dengan tujuan nasional pendidikan.
Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan membahas tentang perencanaan kurikulum, serta pentingnya manajemen dalam merencanakan suatu kurikulum . Dan semoga makalah ini akan memberikan pengetahuan kita tentang mengatur atau mengelola perencanaan kurikulum sehingga diharapkan dapat sedikit membantu kita kelak di dalam dunia pendidikan.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian manajemen perencanaan kurikulum?
2.      Bagaimana Manajemen perencanaan kurikulum?
3.      Bagaimana Manajemen organisasi atau lembaga madrasah?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manajemen Perencanaan Kurikulum
Dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan lahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.[1]
Menurut Nasution, lazimnya kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Dan sejumlah ahli teori kurikulum berpendapat bahwa kurikulum bukan hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan juga peristiwa – peristiwa yang terjadi dibawah pengawasan sekolah.[2]
Sehingga kurikulum sangat penting dalam dunia pendidikan, kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang harus dicapai serta pengalaman belajar yang harus didapatkan oleh para peserta didik. Dengan demikian dalam merumuskan kurikulum harus memperhatikan beberapa faktor penting, misalnya faktor perkembangan dan psikologi peserta didik, lingkungan sekitar, serta teknologi di masing – masing jenjang pendidikan.
Mengingat objek dalam pendidikan adalah manusia yang memiliki rasa serta pengetahuan teknologi yang terus mengalami kemajuan, maka tidak salah jika  rumusan kurikulum sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan selalu menunjukkan kecenderungan untuk berubah.[3]
Kata Manager biasanya digunakan untuk seorang pemimpin dalam suatu organisasi. Sedangkan istilah manajemen dalam bahasa inggris berasal dari kata to manage yang artinya mengatur atau mengelola. Jadi manajemen merupakan seni atau ilmu untuk mengatur dan mengelola suatu organisasi.
Menurut Horold Koontz dan Cyril O’Donnel, Manajemen adalah Usaha untuk mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.[4] G.R. Terry mengatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri atas tindakan – tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.[5]
Dari pengertian yang dikemukakan oleh terry diatas, langkah awal atau yang pertama kali dilakukan oleh seorang manajer adalah Planning (perencanaan). Perencanaan adalah kegiatan yang berkaitan dengan usaha merumuskan suatu program yang didalamnya memuat sesuatu yang akan dilaksanakan, penentuan tujuan, kebijakan arah, prosedur dan tujuan yang harus ditempuh.
Menurut hikmat ada tiga keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer yakni keterampilan konseptual, keterampilan manusiawi dan keterampilan teknis.[6] Dari ketiga keterampilan tersebut, Keterampilan konseptuallah yang paling dibutuhkan dalam merencanakan suatu progran terutama kurikulum, karena dalam keterampilan ini seorang manajer dituntut untuk mampu memahami dan mengelola organisasi, mampu mengoordinasikan dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan organisasi, serta seorang manajer dituntut pula untuk mampu melihat dan memahami bahwa organisasi merupakan suatu keseluruhan dimana perubahan pada setiap bagian dapat mempengaruhi keseluruhan organisasi.
Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha, meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar.
Manajemen dalam perencanaan kurikulum dapat diartikan sebagai keahlian atau kemampuan merencanakan dan mengorganisasi kurikulum. Siapa yang bertanggungjawab dan bagaimana perencanaan kurikulum itu dilaksanakan secara profesional merupakan dua hal yang perlu diungkapkan dalam perencanaan kurikulum.
B.     Manajement Perencanaan Kurikulum
1.      Organisasi Kurikulum.
Orgaisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid – murid.[7] Organisasi kurikulum ini sangat erat kaitannya dengan pencapaian tujuan pendidikan, karena kurikulum memuat aturan – aturan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan trsebut.
Menurut Suryosobroto pola pengorganisasian kurikulum ada 3 macam :[8]
a.       Separated Subject Curriculum
Kurikulum model ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran (subjects) yang trpisah – pisah satu sama lain, seakan – akan ada batas pemisah antara mata pelajaran yang satu sama lain, juga antara suatu kelas dengan kelas lain.
a.       Correlated Curriculum
Pada dasarnya organisasi kurikulum ini menghendaki agar mata pelajaran satu sama lain ada hubungan, bersangkut paut (Correlated) walaupun mungkin batas – batas yang satu dengan yang lain, masih dipertahankan.
b.      Integrated Curriculum
Kurikulum ini meniadakan batas – batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan.
2.      Model Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum merupakan kegiatan yang komplek yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Maka dalam mendiskusikan dan mengkoordinasikan proses diperlukan model-model dalam penyajiannya, yakni berdasarkan asumsi – asumsi rasionalitas tentang pemrosesan informasi atau data secara cermat.
Adapun model – model dalam perencanaan kurikulum yang disebutkan oleh Oemar hamalik adalah :[9]
a)      Model Perencanaan Rasional Deduktif atau Rasional Tyler, menitikberatkan logika dalam merancang program kurikulum dan bertitik tolak dari spesifikasi tujuan (Goals and Objectives). Namun model  ini cenderung mengabaikan masalah – masalah dalam lingkungan tugas. Model ini dapat diterapkan pada semua tingkat pembuatan keputusan namun lebih cocok digunakan untuk sistem pendidikan yang sentralistik yang menitikberatkan pada sistem perencanaan pusat, dimana kurikulum dianggap sebagai suatu alat untuk mengembangkan atau mencapai tujuan di bidang sosial ekonomi.
b)      Model Interaktif Rasional (The rasional-interactive model), memandang rasional sebagai tuntutan kesepakatan antara pendapat – pendapat yang berbeda, yang tidak mengikuti urutan logik. Model ini  seringkali dinamakan model situasional, asumsi rasionalitasnya ,menekankan pada respons fleksibel kurikulum yang tidak memuaskan dan inisiatif pada tingkat sekolahan atau tingkat lokal., implemantasi rencana merupakan fase krusial dalam pengembangan kurikulum, dimana diperlukan saling beradaptasi antara perencana dan pengguna kurikulum.
c)      “The Disciplines Model”, perencanaan ini menitikberatkan pada guru – guru, mereka sendiri yang merencanakan kurukulum berdasarkan pertimbangan sistematik tentang relevasi pengetahuan filosofis, sosiologi dan psikologi.
d)     Model tanpa perencanaan (non planning model), adalah suatu model berdasarkan pertimbangan – pertimbangan intuitif guru – guru didalam runag kelas sebagai bentuk pembuatan keputusan.
Secara umum dalam sebuah perencanaan kurukulum dapat mengandung keempat type diatas, namun untuk membedakannya antara satu dengan yang lain, diperlukan analisis variabel kebermaknaan bagi praktek perencanaan.[10]
3.      Proses atau Langkah – Langkah Perencanaan
Ada beberapa ahli yang merumuskan proses atau langkah dalam merencanakan sesuatu, diantaranya:
Model perencanaan menurut Ralph Tyler :[11]
v  Menentukan tujuan
v  Memilih pengalaman – pengalaman pendidikan
v  Mengordinisir piont ke 2
v  Cara mengevaluasi
Selanjutnya model perencanaan menurut Dk. Wheeler.[12]
a.       Menentukan tujuan
b.      Memilih pengalaman – pengalaman pendidikan (belajar)
c.       Menentukan materi pelajaran
d.      Organisasi dan Intregasi point (b) dan (c)
e.       Evaluaasi terhadap efektifitas langkah – langkan perencanaan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
4.      Kegiatan – Kegiatan Manajemen Kurikulum
Kegiatan manajemen di sekolah lebih menitikberatkan pada usaha – usaha pembinaan situasi belajar mengajar agar selalu belajar dengan lancar serta mengatur pengalaman – pengalamn belajar yang harus diterima oleh siswa.
Kegiatan manajemen kurikulum yang terpenting disini dapat disebut dua hal yakni:[13]
a.       Kegiatan yang amat erat kaitannya dengan tugas guru.
Kegiatan ini meliputi :
ü  Pembagian tugas mengajar
ü  Pembagian tugas / tanggung jawab dalam membina ekstra kurikuler.
ü  Koordinasi penyusunan persiapan mengajar.
b.      Kegiatan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar.
ü  Menyusun jadwal pelajaran
ü  Penyusunan program (rencana) berdasarkan satuan waktu tertentu.
ü  Pengisian daftar kemajuan murid.
ü  Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar.
ü  Laporan hasil evaluasi.
ü  Kegiatan bimbingan penyuluhan.
Menurut Drs. Ismed Syarif dkk. Kegiatan dalam bidang kurikulum ini masih diperluas mengatur kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Ketiga kegiatan ini merupakan satu kesatuan dalam proses belajar mengajar yang sulit untuk dipisahkan.



5.      Asas – Asas Perencanaan Kurikulum
Ada beberapa asas yang dijadikan dasar dalam perencanaan kurikulum, yaitu :[14]
1)      Objektivitas
Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik berdasarkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai dengan kebutuhan.
2)      Keterpaduan
Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua disiplin ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal, serta keterpaduan dalam proses penyampaian.
3)      Manfaat
Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan dan keterampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.
4)      Efisiensi dan Efektivitas
Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana, tenaga, dan waktu dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
5)      Kesesuaian
Perencanaan kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik, kemampuan tenaga kependidikan, kemajuan IPTEK, dan perubahan/perkembangan masyarakat.
6)      Keseimbangan
Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis bidang studi, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan program yang akan dilaksanakan.
7)      Kemudahan
Perencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.
8)      Berkesinambungan
Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan dengan tahapan, jenis, dan jenjang satuan pendidikan.
9)      Pembakuan
Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis satuan pendidikan, sejak dari pusat sampai daerah.
10)  Mutu
Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu, sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kualitas lulusan secara keseluruhan.
6.      Sifat Perencanaan Kurikulum
Suatu perencanaan kurikulum memiliki sifat – sifat sebagai berikut :[15]
v Bersifat stategis, karena merupakan instrumen yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
v Bersifat komprehensif, yang mencakup keseluruhan aspek – aspek  kehidupan dan penghidupan masyarakat.
v Bersifat integratif, yang mengintegrasikan rencana yang luas, mencakup pengembangan dimensi kualitas dan kuantitas.
v Bersifat realistik, berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik dan kebutuhan masyarakat.
v Bersifat humanistik, menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia, baik kuantitatif maupun kualitatif.
v Bersifat futuralistik, mengacu jauh ke depan dalam merencanakan masyarakat yang maju.
v Bersifat desentralistik, karena dikembangkan oleh daerah sesuai dengan kondisi dan potensi daerah.
7.      Fungsi Perencanaan Kurikulum.
Seorang manager dituntut untuk memiliki ketelitian dan kecermatan yang tinggi dalam merencanakan kurikulum baik secara menyeluruh maupun secara rinci, karena perencanaan kurikulum memiliki multi fungsi sebagai berikut :[16]
a.       Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai pedoman atau alat manajemen, yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber belajar, media, bahan ajar, jenjang pendidikan, biaya dan sarana yang diperlukan, serta sistem kontrol dan evaluasi untuk mencapai tujuan managemen yang telah dirancang sebelumnya.
b.      Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai alat atau penggerak roda organisasi dan tata laksana untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat sesuai dengan tujuan organisasi. Oleh karenanya perumusan kurikulum perlu memuat informasi kebijakan yang relevan antara seni kepemimpinan dan pengetahuan yang telah dimiliki.
c.       Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai motivasi untuk melaksanakan sistem pendidikan sehingga mencapai hasil optimal.
b.      Manajemen Organisasi Sekolah atau Lembaga Pendidikan.
Organisasi merupakan salah satu bentuk dari sistem sosial. Sebagai salah satu bentuk organisasi pendidikan, maka sekolah termasuk bentuk dari sistem sosial, yang tentunya mempunyai sub sistem dengan ciri – ciri tertentu, yang khusus yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sebagai sebuah sistem organisasi, sekolah juga memiliki kegiatan administrasi dan kegaiatan manajeme, yang dimana inti dari organisasi ini adalah proses belajar mengajar baik diluar maupun didalam kelas.[17] 
Faktor – Faktor Yang Perlu Diperhatikan Dalam Merencanakan Organisasi Madrasah
Sebenarnya tidak mudah untuk menentukan pedoman dalam menyusun organisasi madrasah. Kesulitan tersebut salah satunya disebabkan oleh perbedaan antara sekolah satu dengan sekolah yang lain.
Faktor yang harus diperhatikan dalam  merencanakan organisasi madrasah menurut Suryosubroto adalah :[18]
a.       Tingkat pendidikan
kita ketahui bahwasanya ada beberapa tingkat pendidikan di indonesia, yakni SD, MI, SMP, MTs, SMA,MA dan Perguruan Tinggi. Dimasing – masing jenjang pendidikan memiliki fisik dan perkembangan jiwa anak jelas berbeda – beda, begitupun dengan pengaruh lingkungan yang didapatkan atau yang mempengaruhi masing – masing psikis anak. Dengan demikian dalam menetukan organisasi madrasah baik tujuan, metode dll pastilah berbeda dan diperlukan keterampilan khusus untuk merencanakannya.


b.      Jenis sekolah
Para perencana harus faham dan tahu jenis sekolah apa yang akan didirikan yakni termasuk sekolah umum atau sekolah khusus, karena semua itu  berhubungan dengan tujuan utama yaang hendak dicapai yang nantinya akan berhubungan pula dengan perencanaan kurikulum.
c.       Besar Kecilnya Sekolah.
Ukuran ini berhubungan dengan jumlah murud, jumlah kelas, jumlah tenaga guru, karyawan serta fasilitas yang dimiliki. Jika jumlah ketentuan diatas banyak maka termasuk sekolah besar sedangkan sekolah kecil adalah sekolah yang cukup memenuhi syarat minimal dari ketentuan yang berlaku.
d.      Letak dan Lingkungan Sekolah
Letak geografis seperti pedesaan, pekotaan, pesisir dan lingkungan masyarakat tempat madrasah itu berada memberikan pengaruh yang berbeda-beda. Oleh karenanya dalam menyusun stuktur organisasi sekolah, hal – hal tersebut di atas perlu diperhatikan dan dipahami.
Sebenarnya yang paling awal direncanakan atau ditentukan oleh suatu madrasah adalah merumuskan VISI dan MISI yang nantinya akan menjadi tolak ukur untuk mencapai tujuan pendidikan serta merumuskan kebijakan – kebijakan yang lain.
Kegiatan manajemen organisasi dalam lembaga pendidikan pada hakikatnya merupakan keterpaduan antara teori dan praktek, atau keterpaduan antara pikiran dan tindakan dalam bidang pendidikan yang dilandasi dengan nilai – nilai ajaran agama, falsafat dan budaya bangsa.[19] Kegiatan pendidikan bukanlah hal yang mudah karena disini kegiatan memproses input dengan berbagai metode dan didukung dengan sarana prasarana untuk menghasilkan output yang benar – benar baik. Dalam memanajemen lembaga pendidikan tidak lah asal berjalan, harus ada peta yang menjadikan pedoman dalam berjalan. Peta yang dibangun dalam mengelola lembaga pendidikan ini disebut dengan Visi dan Misi. Visi dan Misi tersebut harus jelas dan sesuai dengan lingkungan atau budaya sekitar sehingga lembaga pendidikan akan berjalan lebih optimal.



BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan.
Manajemen kurikulum merupakan suatu ilmu atau seni untuk merumuskan pedoman dalam peyelengaraan kegiatan belajar, baik diluar maupun didalam kelas. Yang didalamnya didukung dengan berbagai sarana prasarana.
Untuk merumuskan suatu kurikulum diperlukan perencaan yang matang, dimana perencanaan tersebut merupakan kegiatan awal dalam suatu manajemen. Dalam merencanakan suatu kurikulum diperlukan banyak keterampilan, salah satunya adalah keterampilan konseptual. Dalam keterampilan ini seorang manajer dituntut untuk mampu memahami organisasi serta mampu memadukan dan mengkoordinasi berbagai kepentingan dalam organisasi.
Yang terpenting dalam melakukan manajemen adalah kita memahami konsep dan teori dari manajemen, perencanaan dan yang terpenting konsep atau teori dari kurikulum  sendiri, dimana merupakan objek yang akan dirumuskan.
Bukan hanya itu saya keadaan lingkungan, budaya serta kemajuan teknologi juga turut diperhatikan karena faktor – faktor diatas turut pula memberikan sumbangsih yang besar terhadap perubahan suatu kurikulum atau lembaga madrasah. Dan perlu diingat bahwa perumusan kurikulum atau lembaga madrasah disusun untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, tujuan yang sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional.














DAFTAR PUSTAKA
Mulyono,  Manajemen Administrasi & Organisasi pendidikan, Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2008
Suryosubroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004)
Dakir, Perencanaan dan Pengembangan kurikulum,Jakarta:Rineka Cipta, 2004)
Hamalik, Oemar,  Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006
 Nasution,  Kurikulum dan Pengajaran., Jakarta : Bumi Aksara, 2006, Cet. VI
Hikmat,  Manajement Pendidikan, Bandung : Pustaka Setia, 2009




[1] Oemar hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 91-92
[2] Nasution, Kurikulum dan Pengajaran. (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), Cet. VI, Hlm. 5
[3] Ibid, hlm. 93
[4] Hikmat, Manajement Pendidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 2009), Hlm.12
[5] ibid
[6] Ibid, hlm. 47
[7] Suryosubroto,Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004), hlm. 33
[8] ibid
[9] Oemar Hamalik, op.cit, Hlm. 153-154
[10] Oemar Hamalik, op.cit, Hlm. 154
[11] Dakir,Perencanaan dan Pengembangan kurikulum,(Jakarta:Rineka Cipta, 2004), hlm. 117-118
[12] ibid
[13] Suryosubroto,Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004), hlm. 42
[14] Oemar hamalik, op.cit, Hlm. 155-156
[15] Oemar Hamalik, op.Cit, Hlm. 154-155
[16] Oemar hamalik, op.cit, hlm. 152
[17] Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi pendidikan, (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2008). Hlm 63-64
[18] Suryosubroto,Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004), hlm. 141-150
[19] Mulyono, op.cit, hlm. 118

PEMANFAATAN BAHAN BEKAS DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR TIGA DIMENSI DI SD*

*Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Kurikulum Pendidikan Dasar oleh dosen pengampu Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd. di P...