BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Remaja merupakan hal yang sangat menarik untuk dibahas, sendiri memiliki karakteristik emosi yang sangat unik yang berbeda dengan masa – masa sebelumnya di masing – masing individu. Mengingat masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Sehingga berbagai masalah sering muncul pada masa ini.
Masa remaja sering juga dianggap sebagai periode “badai dan topan”, yaitu suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena mereka berada di bawah tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Mencapai kematangan emosional merupakan tugas yang sulit bagi remaja. Sehingga dalam menghadapi ketidaknyamanan emosional tersebut muncul berbagai masalah dalam diri remaja yang berdampak pada orang disekitarnya.
Masalah yang paling sering dialami orang tua dan guru ketika menghadapi anak yang beranjak dewasa adalah anak susah diataur, selalu ingin memberontak, cenderung suka melawan dan memiliki watak keras. Bahkan sering kali mereka merasa jengkel, marah, bingung dan lelah untuk menghadapi remaja tersebut. Untuk itulah dalam makalah ini akan dibahas tentang penyebab sikap suka melawan pada remaja dan cara menghadapi remaja tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang menyebabkan seorang remaja cenderung suka melawan dan susah diatur?
2. Bagaimana cara menghadapi atau menangani remaja yang suka melawan dan susah diatur?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui penyebabkan seorang remaja cenderung suka melawan dan susah diatur?
2. Untuk mengetahui cara menghadapi atau menangani remaja yang suka melawan dan susah diatur?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Emosi Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak – kanak menuju masa dewasa.[1] Remaja berasal dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.[2]
Masa remaja juga dikenal dengan masa pencarian jati diri, hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Erikson (dalam Hurlock, 1990 ) bahwa masa remaja adalah masa kritis identitas atau masalah identitas – ego remaja.[3] Identitas diri yang dicari remaja adalah usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat. Ciri-ciri emosional remaja .[4]
1. Ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun adalah sebagai berikut:
a. Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka. Sebagian kemurungan sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai seorang dewasa.
b. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
c. Ledakan-ledakan kemarahan bisa terjadi akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis, dan kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau tidur yang tidak cukup.
d. Remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.
e. Remaja mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara lebih objektif dan mungkin menjadi marah apabila mereka ditipu degan gaya guru yang bersikap serba tahu.
2. Sedangkan ciri emosional remaja usia 15 – 18 tahu adalah:
a. “Pemberontakan” remaja merupakan pernyataan-pernyataan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa. Pemberontakan ini terjadi ada pemberontakan – pemberontakan yang timbul dalam diri mereka.[5]
b. Banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tuanya. Mereka mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru. Hal ini terjadi karena remaja sering mengalami kegelisahan dalam dirinya.[6]
c. Remaja usia ini sering melamun, menghayal dan berfantasi, memikirkan masa depan mereka. Banyak di antara mereka terlalu tinggi menafsir kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan atau jabatan tertentu.
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Masa remaja awal perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung, marah, atau mudah sedih dan murung.
Hurlock (Dalam Syamsu Yusuf.2002:196) mengmukakan bahwa remaja usia 14 tahun seringkali mudah marah, mudah terangsang, dan emosinya cenderung meledak-ledak, tidak berusaha mengendalikan perasaannya.
Mencapai kematangan emosional merupakan tugas yang sulit bagi remaja. Proses pencapainnya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Apabila lingkungan tersebut cukup kondusif, dalam arti kondinya diwarnai oleh hubungan harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung dapat mencapai kematanagn emosionalnya. Sebaliknya, apabila kurang dipersiapkan untuk memahami peran-perannya dan kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau teman sebayanya, mereka cenderung akan mengalami kecemasan, tertekan, dan ketidaknyamanan emosional.
Dalam menghadapi ketidaknyamanan emosional tersebut, tidak sedikit remaja yang mereaksinya secara depensif, sebagai upaya untuk melindungi kelemahan dirinya. Reaksi itu tampil dalam tingkah laku malajusment), seperti, (1) agresif, melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, dan senang mengganggu, dan (2) melarikan diri dari kenyataan: melamun, pendiam, senang menyendiri, dan menyalahgunakan narkoba.
B. Sebab – Sebab Remaja Cenderung Melawan.
Dilihat dari perkembangan emosional remaja, hal yang paling sering membuat orang tua atau guru marah, jengkel, dan bingung ketika menghadapi para remaja adalah sikap melawan, atau memberontak.
Tiap remaja memiliki karakter yang berbeda- beda, maka sikap melawan atau pemberontak yang muncul dari diri remaja tidak sama antara individu yang satu dengan yang lain. Sebab dan penanganan antara remaja yang satu dengan yang lain takkan sama. Untuk itulah orang tua atau guru harus memiliki kepekaan yang lebih untuk mampu mengidentifikasi penyebab sikap melawan pada remaja itu timbul.
Ada beberapa sebab mengapa remaja cenderung memeberontak :
1. Dari Dalam Diri Remaja.
a. Adanya krisis identitas dan transisi dalam diri remaja.
Dalam masa pencarian identitas diri remaja mulai menyadari bahwa ia merupakan individu yang unik berbeda dengan orang tua dan orang lain. Sehingga ia merasa mengetahui segalanya, dapat melakukan segalanya sendiri dan memiliki otoritas terhadap dirinya. Kesadaran ini sering membuat ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasehat dan menentang orang tuanya pada setiap kesempatan.[7]
b. Upaya Pengakuan Diri.
Pengakuan akan identitas dirinya merupakan hal yang sangat penting bagi remaja. Maka mereka akan selalu berusaha untuk menunjukkan dirinya. Namun terkadang orang tua atau guru kurang peka terhadap keinginan remaja. Mereka para orang tua selalu beranggapan bahwa mereka masih anak – anak dan belum mampu untuk melaksanakan suatu tanggung jawab. Kurangnya kepercayaan inilah yang menyebabkan remaja sering berbeda pendapat dengan orang tua.
Mengingat remaja msih sangat labil emosinya, jadi penolakan – penolakan yang dilakukan oleh remaja cenderung keras.
2. Pola Asuh Orang Tua.
a. Orang tua yang terlalu over protektif
Remaja yang memiliki rasa keingintahuan yang besar terhadap lingkungannya, tidak suka dilindungi yang berlebihan dari orang tuannya.[8] Karena pada usia remaja, mereka bukan lagi anak kecil yang masih memerlukan perlindungan orang tua.
Orang tua tipe ini memiliki kekhawatiran yang lebih terhadap anaknya sehingga mereka terlalu melindungi, melarang melakukan ini, melakukan itu, harus seperti ini dan harus seperti itu. Walaupun tujuan orang tua itu baik namun pada masa remaja ini rasa ingin tahu anak sangan besar.
Rasa ingin tahu yang besar dalam diri remaja membuatnya untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya.[9] Mereka tidak peduli itu baik atau buruk, berbahaya atau tidak bagi dirinya. untuk memenuhi rasa keingintahuannya yang besar mererka tidak akan memperdulikan nasehat dari orang tua, guru dan orang disekitarnya. Karena pola fikirnya baru jangka pendek yang terpenting bagi mereka adalah hasyrat ingin tahunya terpenuhi.
b. Orang tua yang kaku
Orang orang yang bersikap kaku adalah orang tua yang beranggapan bahwa hanya pendapatnya yang dianggap benar, dan tidak mau kompromi dengan orang lain, tidak mau mendengarkan alasan dan keinginan anaknya.
Mengingat bahwa remaja memiliki emosi yang msih labil, dan merupakan masa – masa pencarian jati diri maka dia akan cenderung suka mencoba – coba hal baru yang ada dilingkungannya. Rasa ingin tahu yang besar akan mendorong seorang remaja untuk mencoba melakukan hal baru tersebut.
Dengan keadaan remaja yang demikian Apabila orangtua bersikap kaku atau bahkan keras terhadap anak-anak justru akan membuat mereka tidak nyaman, kurang atau bahkan tidak suka, dan akhirnya menjadi pemberontak.
c. Orang tua yang menuntun secara berlebihan.
Orangtua atau guru kadang menginginkan agar anaknya melakukan sesuatu atau bersikap sesuai dengan yang dinginkannya. Terkadang orang tua yang telalu jauh mencampuri peribadi anak, menginginkan menjadi ini, harus begini, mau melakukan ini, tidak boleh ini tanpa menlihat kemampuan, kondisi anak yang sedang tumbuh menjadi remaja kan semakin memicu sikap pemberontakannya.
Karena pada saat ini mereka sudah mampu memilih hal apa yang sesuai dengan dirinya dan sadar akan otoritas pada dirinya. apa lagi orang tua atau guru yang suka membanding – bandingkan kelebihan anak yang satu dengan kekurangan anak yang lain. Hal ini akan membuat Anak cenderung memberontak atau tidak mau melaksanakan apa yang dituntutkan kepadanya. Karena mereka akan merasa bahwa keberadaannya sebagai individu yang unik tidak dihargai dan diterima apa adanya
3. Nilai yang diperoleh dari Lingkungan.
Remaja lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas ketimbang dengan orang tuanya, maka mereka dihadapkan dengan bermacam – macam nilai dan ide – ide. Seiring dengan terjadinya perubahan kognitif selama masa remaja, perbedaan ide-ide yang dihadapi sering mendorongnya melakukan pemeriksaan terhadap nilai – nilai dan pelajaran yang berasal dari orang tua. Akibatnya remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan – pandangan orang tua serta mengembangkan ide – ide mereka sendiri. [10]
Selain itu pandangan – pandangan yang diperoleh dari pergaulannya dengan teman sebaya juga memberikan kontribusi yang besar terhadap pola pikir remaja. Mereka tidak lagi menganggap orang tua sebagai sebagai otoritas yang serba tahu. Kebutuhan akan pengakuan lingkungan akan keberadaan dirinya menyebabkan mereka lebih percaya terhadap ide – ide yang diperoleh dari teman sebaya dan lingkungannya ketimbang ide – ide yang diberikan oleh orang tua mereka.
C. Cara Menghadapi Remaja yang Suka Melawan dan Susah Diatur.
Menghadapi remaja yang suka melawan bukanlah hal yang mudah namun bukan juga hal yang sangat sulit namun yang terpenting adalah kesabaran, kebijaksanaan dan perhatian khusus kepada mereka. Hal – hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi mereka antara lain :
1. Lihat diri kita
Keteladanan mempunyai pengaruh yang besar bagi anak dari pada nasihat dan ucapan.[11] Banyak orang tua atau guru tidak menyadari bahwa remaja memiliki hati yang keras, salah satu sebabnya adalah diri orang yang ada disekitarnya. Bila orang tua memiliki hati yang keras, sukar dinasehati, tentu saja secara tidak langsung itu juga akan menular pada diri buah hati kita. Karena karaktek seorang anak tidak akan jauh dari orang yang mendidiknya. Hal ini sejalan dengan pendapat Abou Ela bahwa “ para pemuda kita tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh bapaknya”[12]
Untuk itu sebelum kita menuntut para remaja untuk berubah hendaknya sebagai pendidik kita harus mengintrospeksi diri dulu. Kerana yang dihadapi adalah seseorang yang sedang ada pada masa transisi, yang sudah mampu mengoreksi ide – ide para pendidiknya.
2. Jadilah orang tua yang bijak dan Fleksibel
Orang tua yang bijak mempunyai kepekaan terhadap buah hatinya, selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memberikan pilihan terbaik kepada sang buah hati. Yang terbaik bagi anak, kadang bukanlah yang terbaik bagi orang tua. Disinilah terkadang kita temukan kesalahpahaman antara orang tua dan anak.
Bijaksana adalah dalam menghadapi persoalan dan menyelesaikannya selalu menggunakan akan sehat, tidah terpenggaruh dengan emosi.
Fleksibel disini dalam menghadapi remaja pada saat tertentu adakalanya orang tua bersikap tegas, lembut, menjadi seorang sahabat dan menjadi orang tua yang harus dihormati.
3. Cara Komunikasi yang Baik
Cara berkomunikasi dengan remaja tidaklah sama ketika mereka masih kecil, ketika menghadapi remaja yang masih dalam masa transisi harus sangat hati – hati. Perlu adanya keterampilan ketika berkomunikasi dengannya, diantaranya : [13]
a. Dalam awal komunikasi kata – kata orang tua harus mampu Menggambarkan permasalahan tanpa komentar terlebih dahulu dan gambarkan perasaanmu atas tindakannya
b. Dalam berkomunikasi orang tua harus mampu mengenali dan pahami perasaan anak.
c. Hindari kata – kata menyalahkan dan mengkritik anak namun perlihatkan perasaan empati pada anak dangan tetap bersahabat padanya.
d. Hindrilah kata – kata yang memaksa dan larangan, karena sifat remaja adalah selalu ingin tahu dan jika mereka dilarak maka dia akan semakin penasaran, begitu juga dengan halnya memaksa, semakin dipaksa dia akan semakin memberontak karena dia merasa bahwa dia memiliki otoritas penuh atas dirinya.
e. Berilah kesan ajakan bersama – sama untuk melakukan sesuatu.
f. Berilah dia kesempatan untuk menjelaskan permasalahannya,
g. Sebutkan apa yang kamu inginkan dan berikan dia kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan menentukan pilihannya sendiri, namun sebagai orang tua tetap memberikan masukan dan bantuan – batuan walaupun sedikit.
h. Berikan kepercayaan pada anak untuk menentukan pilihannya dan jelaskan kepadanya bahwa segala tindakan ada konsekuensinya
4. Tidak Mempermalukan Anak di Depan Umum
Saat menasehati anak, akan lebih baik bila kita menasehatinya di tempat yang rahasia dan dengan suara lembut. Jangan memberikan larangan, melainkan himbauan. Karena pada usia remaja gengsi anak sangatlah besar, dia selalu menginginkan yang terbaik baginya. Jadi ketika mereka merasa dipermalukan dia akan memberontak, berbalik menyalahkan dan beranggapan bahwa tak ada yang mengerti dan memahami perasaanya.
5. Cari Waktu yang Tepat
Waktu yang tepat adalah sesuatu yang penting dan perlu kita perhatikan pada saat kita hendak menasehati buah hati kita. Pilihlah saat yang tepat dimana kita bisa mentransfer “ilmu moral” kita kepada buah hati kita, tanpa dia merasa terpaksa.
Jangan menasehati anak ketika dia kecapean, dalam keadaan marah, dan bosan karena hal itu malah akan memancing emosi anak. Bukan hanya perasaan anak saja namun begitu juga dengan perasaan orang tua, ketika menyelesaikan suatu persolaan tunggu sampai keduanya sama – sama tenang.
6. Jadilah Sahabat Anak
Untuk menhadapi remaja, kita bersikap bukan lagi sebagai orang tua atau guru yang serba tahu, namun bersikaplah sebagai sahabatnya yang mau mendengarkannya namun tetap menjaga kewibawaan sebagai orang tua atau guru.
Dengan menjadi sahabatnya diharapkan mampu menciptakan suasana kejiwaan yang nyaman, aman, suasana saling percaya dan rasa saling menghargai dengan demikian sikap saling menentang dan terjadinya kesalahpahaman antara anak dan pendidik dapat terminimalisir karena terjalin komunikasi yang nyaman.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Masa remaja dikenal sebagai masa transisi dan sebagai masa pencarian jati diri. Banyak berupahan yang terjadi pada masa ini yaitu dari segi fisik, psikis maupun emosinya.
Bahkan Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Masa remaja awal perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung, marah, atau mudah sedih dan murung.
Beberapa penyebab kenapa para remaja cenderung melaman diantaranya faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri yaitu adanya krisis identitas dan upaya pengakuan jati diri, sikap atau pola asuh orang tua, dan nilai –nilai yang didapatkannya dari lingkungan dan teman sebaya.
Untuk itulah dalam menghadapi remaja yang cenderung melawan perlunya kesabaran yang lebih dan perlu adanya koreksi terlebih dahulu pada diri kita, intenskan komunikasi antara pendidik dengan para remaja, berilah kepercayaan kepadanya dan dengarkan pula apa keinginannya. Untuk menasehati para remaja jangan dilakukan ditempat umum dan cari waktu yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Akram Misbah Utsman, 25 kiat Membentuk Anak Hebat, Jakarta; Gema Insani, 2005
Guarsa dan singgih, Psikologi Perkembangan, jakarta; Gunung mulia, 2007
http://kajianpsikologi.guru-indonesia.net/artikel_detail-20035.html
Imam Ahmad Ibnu Nizar, Membentuk dan meningkatkan disiplin anak sejak dini, Jogjakarta; Diva Press, 2009
Samsunuwiyati mar’at, Psikologi Perkembangan, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2005
Sunarto dan Agung Hartono, perkembangan peserta didik, Jakarta;Rineka Cipta, 2008
www.duniapsikologi.com/remaja-pengertian-dan-definisinya/
[1] Guarsa dan singgih, Psikologi Perkembangan, (jakarta; Gunung mulia, 2007), hlm 4-5
[2] www.duniapsikologi.com/remaja-pengertian-dan-definisinya/
[3] ibid
[4] http://kajianpsikologi.guru-indonesia.net/artikel_detail-20035.html
[5] Sunarto dan Agung Hartono, perkembangan peserta didik, (Jakarta;Rineka Cipta, 2008), hlm. 58
[6] ibid
[7] Samsunuwiyati mar’at, Psikologi Perkembangan, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2005) Hlm, 212
[8] Imam Ahmad Ibnu Nizar, Membentuk dan meningkatkan disiplin anak sejak dini, (Jogjakarta; Diva Press, 2009), Hlm, 224
[9] Sunarto dan Agung Hartono, op.cit, Hlm. 59
[10] Samsunuwiyati mar’at, op.cit, hlm. 217-218
[11] Akram Misbah Utsman, 25 kiat Membentuk Anak Hebat, (Jakarta; Gema Insani, 2005), hlm. 17
[12] ibid
[13] Ibid, hlm. 152-153
orang tua q sangat overprotektif ,aku sampai capek menghadapinya.
BalasHapusartikel yang sangat bagus, terima kasih.
BalasHapusmungkin kebanyakan orang tua selalu memaksakan kehendaknya terhadap anak-anaknya contohnya masalah masa depan anaknya harus jadi ini tapi anaknya mau harus jadi itu
BalasHapus