Sabtu, 10 Mei 2014

Manusia dalam Filsafat Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                                  
A.    Latar Belakang
Berbicara masalah filsafat, tidak akan lepas dari berbicara tentang Manusia, karena manusia merupakan salah satu dari objek filsafat, baik filsafat umum, filsafat pendidikan maupun filsafat Pendidikan Islam.
 Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak lain hanya untuk mengabdi dan beribadah. Dan juga bertugas untuk mengemban amanah untuk mengelola dan memamfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur lahir dan batin. Begitu spesialnya manusia diciptakan oleh allah SWT. Dengan diberinya potensi, maka manusia dapat berpikir dan memngembangkan potensi yang terdapat pada dirinya. Mengembangkan potensi tersebut salah satunya melalui dunia pendidikan.
Dalam pembahasan ini penulis akan berupaya mengupas dan menjelaskan beberapa hal yang berhubungan dengan fitrah manusia dan potensi manusia itu sendiri dalam Filsafat Pendidikan Islam. Pertama penulis akan mencoba menjelaskan tentang manusia yang mencakup bagian-bagiannya, fitrah manusia, selanjutnya macam-macam fitrah, dan hubungan fitrah manusia itu sendiri dengan dunia pendidikan.
Semoga dengan adanya penjelasan tersebut kitta menjadi paham tentang fitrah dan potensi manusia dalam pendidikan islam. Terutama bagi penulis sendiri agar menambah pemahaman dan cakrawala tentang manusia dalam pendidikan, berikut penjelasannya.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Bagaimana Konsep Manusia dalam Filsafat Pendidikan Islam
2.      Bagaimana Konsep Potensi Manusia dalam Filsafat Pendidikan Islam

C.     Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui Konsep Manusia dalamFilsafat Pendidikan Islam.
2.      Untuk mengetahui Potensi Manusia dalam Filsafat Pendidikan Islam.




















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Manusia dalam Filsafat Pendidikan Islam
Pengkajian tentang manusia dipandang dari berbagai aspek. Dari segi fisik disebut antropologi fisik. Dari sudut pandang budaya disebut antropologi budaya, sedangkan yang memandang manusia dari segi hakikatnya yaitu antropologi filsafat. Dari pandangan filsafat inilah yang menyebabkan pengkajian tentang hakikat manusia itu tidak pernah berakhir. Sehingga ada 4 aliran yang berbicara apa itu manusia.[1]
Aliran tersebut yaitu aliran serba zat yang mengatakan bahwa yang sungguh-sugguh ada itu adalah zat dan materi. Kedua, aliran serba ruh yang mengatakan bahwa segala sesuatu hakikatnya adalah ruh, begitupun manusia. Sementara zat hanyalah manfestasi dari ruh.
Ketiga, aliran dualisme yang merupakan gabungan dari zat dan ruh yang mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan rohani, badan dan ruh. Keempat, aliran eeksistensialisme yang memandang manusia buakan dari zat dan ruh akan tetapi dari segi eksistensi manusia itu sendiri, yaitu cara beradanya manusia itu sendiri di dunia ini.
Dalam konsep filsafat pendidikan, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Hakikat penciptaannya adalah agar manusia menjadi pengabdipenciptanya (ontologi). Agar dapat menempatkan diri sebagai pengabdi yang setia, maka manusia dianugrahkan berbagai potensi baik potensi jasmani, rohani dan ruh.
Pertumbuhan dan perkembangan manusiaberjalan secara evolusi. Melalui proses evalusi tersebut manusia mengisi dirinya dengan pengalaman dan pengetahuan. Dengan demikian manusia memperleh pengetahuan secaraberproses, berasal daripengembangan potensi dirinya, pengalaman dengan lingkungannya, serta dari Tuhan (Epistimologi).[2]
Manusia sebagai makhluk ciptaan, dilengkapi dengan potensi agar dengan potensi tersebut ia dapat mengembangkan dirinya, namun dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya insaninya itu, manusia diikatkan oleh nilai – nilai yang telah ditentukan oleh penciptanya (Aksiologi).
Dengan demikian manusia dalam pandangan Filsafat Pendidikan Islam adalah sebagai makhluk alternatif (dapat memilih), tetapi kepadanya ditawarkan pilihan nilai yang baik, yaitu nilai Ilahiyat. Di satu sisi ia memiliki kebebasan untuk memilih arah, di lain pihak manusia diberi pedoman ke mana semestinya arah baik yang harus dituju. Sehingga dapat pula dikatakan bahwa manusia dapat dikategorikan sebagai makhluk bebas (alternatif) dan sekaligus terikat (Tidak bebas nilai).
B.     Kedudukan Manusia
Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan bentuk raga yang sebaik-baiknya dan rupa yang seindah-indahnya dilengkapi dengan berbagai organ psiko fisik yang istimewa seperti panca indra dan hati agar manusia bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahi keistimewaan-keistimewaan itu.
Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah SWT. menciptakan manusia bukan secara main-main melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi. Kesatan wujud antara fisik dan psikis serta didukung oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan al-taqwim dan menempatkan manusia pada posisi yang strategis yaitu:[3]
1.      Manusia sebagai hamba Allah (‘abd Allah)
Konsep ’abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah. Dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah SWT. Dengan penuh keikhlasan. Yang  meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Islam menggariskan bahwa seluruh akifitas seorang hamba selama ia hidup di alam semesta ini dapat dinilai sebagai ibadah manakalah aktivitas itu memang ditujukan kepada Allah SWT dalam rangka mendapatkan redho-Nya.
Musa Asy’arie mengatakan bahwa esensi ‘abd adalah ketaatan, ketundukan, kepatuhan yang kesemuanya itu hanya layak diberikan kepada Tuhan. Ketundukan dan ketaatan pada kodrat alamiah yang senantiasa belaku bagi-Nya. Ia terikat oleh hokum-hukum Tuhan yang menjadi kodrat pada setiap ciptaannya, manusia menjadi bagian dari setiap ciptaa-Nya, ia tergantung pada sesamanya, hidup dan matinya menjadi bagian dari segala yang hidup dan mati. Sebagai hamba Allah manusia tidak bias terlepas dari kekuasaan-Nya, karena manusia mempunyai fitrah (potensi) bergama. Yang mengakui adanya kekuatan diluar dirinya.
2.      Manusia sebagai khalifah Allah fi al-ardh
Kata khalifah berasal dari fiil madhi Khalafa yang berarti mengganti dan melanjutkan. Jadi khalifah yaitu proses penggantian antara satu individu dengan individu yang lain. Sebagai seorang khalifah ia berfungsi menggantikan orang lain dan menempati tempat serta kedudukan-Nya. Ia menggantikan orang lain menggantikan kedudukann kepemimpinannya atau kekuasaanya.
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat. Diantara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan di bumi. Karena amat mulianya manusia mengeban amanat Allah, maka manusia diberi kedudukan sebagai khalifah-Nya di muka bumi.
Menurut Ahmad Musthafa Al Marghi, kata khalifah dalam ayat ini memiliki dua makna. Pertama, pengganti yaitu pengganti Allah SWT dalam menjalankan titahnya di muka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.

C.     Potensi Manusia dalam Islam
Manusia adalah makhluk Allah yang paling potensial. Berbagai kelengkapan yang dimilikinya memberikan kemungkinan bagi manusia untuk meningkatkan sumber daya dirinya. Secara biologis manusia tumbuh dari makhluk secara fisik, kemudian menjadi anak –anak, remaja, dewasa dan kemudian menurunkembali kekuatannya atau menjadi tua.
Di luar itu manusia juga memiliki potensi mental yang memberi peluang bagi dirinya untuk meningkatkan kualitas dirinya. Manusia juga memiliki kemampuan untuk menghayati masalah yang bersifat abstrak seperti simbol – simbol, ucapan dan lainnya. Semua potensi yang diberikan kepada manusia tak lain adalah sebagai upaya agar mereka mampu mengenali nilai yang mengarah kepada sang penciptanya dan mampu menjalani perannya sebagai Hamba yang mengabdi.
Mengenai  potensi manusia, kitab suci Al-Quran memperkenalkan dua kata kunci untuk memahami manusia secara komprehensif yaitu al-insan dan al-basyar. Kata insan jika dilihat dari asal kata anasa mempunyai arti melihat, mengetahui dan minta izin. Hal ini berarti bahwa adanya keterkaitan manusia dengan kemampuan penalaran yaitu melalui penalaran manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, dapat mengetahui mana yang benar dan yang salah, dan  terdorong untuk meminta izin untuk menggunakan sesuatu yag bukan miliknya.Pengertian ini menunjukkan adanya potensi untuk dapat dididik pada diri manusia, artinya manusia merupakan makhluk yang dapat diberi pelajaran atau pendidikan. Kemudian kata insan bila dilihat dari asal kata nasiya yang artinya lupa, menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak luput dari lupa dan salah.[4]
Adapun kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang artinya permukaan kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Dalam Al-Quran pemakaian kata basyar memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan kata tersebut adalah anak Adam yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar. Dengan demikian kata basyar mengacu kepada manusia dari aspek lahiriyahnya.
Menurut M. Quraish Shihab dalam mendefinisikan fitrah manusia ada beberpa potensi yang dimiliki oleh manusia diantaranya yaitu:[5]
1.      Potensi jasadiah, yaitu contohnya potensi berjalan tegak dengan menggunakan kedua kaki.
2.      Potensi akliyahnya, yaitu contohnya kemampuan manusia untuk menarik sesuatu kesimpulan dari sejumlah premis.
3.      Potensi rohaniyah, yaitu contohnya kemampuan manusia untuk dapat merasakan senang, nikmat, sedih, bahagia, tenteram, dan sebagainya.
Secara garis besar potensi tersebut terdiri atas empat potensi utama yang secara fitrah sudah dianugrahkan Allah kepada Hambanya, Yaitu :[6]
1.      Hidayat Al Gharizziyat (Potensi Naluri)
Dorongan ini merupakan dorongan primer yang berfungsi untuk memelihara keutuhan dan kelanjutan hidup manusia. Diantara dorongan – dorongan tersebut adalah berupa instink untuk memelihara diri, seperti makan, minum, penyesuaian tubuh tehadap lingkungan dan sebagainya. Dorongan ini berguna bagi manusia agar eksistensinya terjaga supaya tetap hidup.
Kemudian dorongan yang kedua, yaitu dorongan untuk mempertahankan diri. Bentuk dorongan ini dapat berupa nafsu marah, bertahan atau menghindar dari gangguan yang mengancam dirinya, baik sesama makhluk maupun oleh lingkungan alam. Dorongan mempertahankan diri, berfungsi untuk memelihara manusia dari ancaman dari luar dirinya. Realisasinya berupa karya busana, senjata, tempat tinggal dan sebagainya.
Adapun dorongan yang ketiga, berupa dorongan untuk mengembangkan jenis. Dorongan ini berupa naluri seksual. Manusia pada tahap pencapaian kematangan fisik(dewasa) menjadi tertarik terhadap lawan jenisnya. Dengan adanya dorongan ini manusia dapat mengembangkan jenisnya dari satu generasi ke generasi sebagai pelanjut kehidupan.
Ketiga macam dorongan tersebut melekat pada diri manusia secara fitrah. Diperoleh tanpa harus melalui proses belajar. Karena itu dorongan ini disebut sebagai dorongan naluriah atau dorongan instinktif. Dorongan yang siap pakai, sesuai dengan kebutuhan dan kematangan perkembangannya.
2.      Hidayat al-Hassiyat (Potensi Inderawi)
Potensi indrawi erat kaitannya dengan peluang manusia untuk mengenal sesuatu diluar dirinya. Melaui alat indra yang dimilikinya, manusia dapat mengenal suara, cahaya, warna, rasa, bau dan aroma maupun bentuk sesuatu. Jadi indera berfungsi sebagai media yang menghubungkan manusia dengan dunia diluar dirinya.
3.      Hidayat al-Aqliyyat (Potensi Akal)
Potensi ini hanya dianugrahkan Allah kepada Manusia. Adanya potensi ini menyebabkan manusia dapat meningkatkan dirinya melebihi makhluk – makhluk lain ciptaan Allah.
Potensi akal memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami simbol – simbol, hal – hal ynag abstrak, menganalisa, membandingkan maupun membuat kesimpulan dan akhirnya memilih maupun memisahkan antara yang benar dan yang salah. Kemampuan akal mendorong manusia berkreasi ban berinofasi dalam menciptakan mebudayaan serta peradaban. Manusia dengan kemampuan akalnya mampu menguasai ilmupengetahuan dan teknologi, mengubah serta merekayasa lingkungannya, menuju situasi kehidupan yang lebih baik, aman dan nyaman.
4.      Hidayat al-Diniyyat (potensi Keagamaan)
Pada diri manusia sudah ada potensi keagamaan, yaitu berupa dorongan untuk mengabdi kepada sesuatu yeng dianggapnya memiliki kekuasaan lebih tinggi. Dalam pandangan antropolog, dorongan ini dimanifestasikan dalam bentuk percaya terhadap kekuasaan supernatural.
Dorongan untuk mengabdi ini teramu dari berbagai macam unsur emosi seperti, perasaan kagum, perasaan ingin dilindungi, perasaan tak berdaya, perasaan takut, perasaan bersalah dan lain – lain. Gejala – gejala emosional ini mendorong manusia untuk memuja sesuatu yang dinilainya dapat menetralisasi perasaan – perasaan tersebut.
Dalam kasus – kasus seperti itu terlihat bahwa bagaimanapun sederhananya peradaban manusia, dorongan untuk mengabdi dan tunduk pada suatu yang dianggap adi kuasa tetap ada. Dalam pandangan filsafat pendidikan islam dorongan tersebut merupakan fitrah manusia. Dorongan ini adalah bagian dari faktor intern (bawaan sejak lahir) seabagai anugrah Allah. sesuai dengan QS.(30:30)
Dorongan ini mengambarkan bahwa pada diri manusia memangsudah ada rasa keberagamaan dalam bentuk kecenderungan untuk menundukkan diri kepada sesuatu yang dikagumi, disamping jenis perasaan lain yang ada. Dalam berbagai kajian tentang psikologi agama, antroologi agama maupun sosiologi agama, terlihat bahwa dalam kehidupannya manusia memang tidak dapat dipisahkan dari agama. Ada semacam kecenderungan untuk beragama pada manusia baik secara individu maupun kelompok.
Keempat potensi ini terangkum pada potensi dasar manusia, yaitu :jasmani, akal, Nafs, dah ruh. Hidayat Al Gharizziyat dan Bissiyat terdapap dalam diri manusia sebagai makhluk biologis. Sedangkan hidayat al Aqliyat dan Hidayat al Diniyyah termuat dalam ruh. Potensi yang bersifat fitrah ini tampaknya menandai karakteristik dalam kehidupan manusia umumnya.






BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Pada dasarnya manusia adalah makhluk Allah yang paling Sempurna dengan segala potensi ang diberikan Allah Kepadaya. dengan potensi itulah manusia memiliki tujuan dan fungsi. Kesatan wujud antara fisik dan psikis serta didukung oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan al-taqwim dan menempatkan manusia pada posisi yang strategis sebagai  Manusia sebagai hamba Allah (‘abd Allah) dan Manusia sebagai khalifah Allah fi al-ardh.
Jadi tak salah jika Manusia dikatakn sebagai makhluk yang potensial. potensi – potensi yang dimilikinya, anatar lain ; pertama, Potensi jasadiah, yaitu contohnya potensi berjalan tegak dengan menggunakan kedua kaki. Kedua, Potensi akliyahnya, yaitu contohnya kemampuan manusia untuk menarik sesuatu kesimpulan dari sejumlah premis. Dan terakhir, Potensi rohaniyah, yaitu contohnya kemampuan manusia untuk dapat merasakan senang, nikmat, sedih, bahagia, tenteram, dan sebagainya.












DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin,2003, Teologi Pendidikan, Jakarta;Raja Grafindo Persada.
Adb. Rachman Assegaf, 2011, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta;Grafindo Persada


[1]http://sapanmaluluang.wordpress.com/2011/07/14/fitrah-dan-potensi-manusia-dalam-pendidikan-islam/
[2] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta;Raja Grafindo Persada,2003),Hlm,33
[3] Adb. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta;Grafindo Persada,2011), hlm. 158
[5]http://sapanmaluluang.wordpress.com/2011/07/14/fitrah-dan-potensi-manusia-dalam-pendidikan-islam/
[6] Jalaluddin,op.cit, hlm.34

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMANFAATAN BAHAN BEKAS DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR TIGA DIMENSI DI SD*

*Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Kurikulum Pendidikan Dasar oleh dosen pengampu Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd. di P...