Senin, 29 April 2013

Hadits Tentang Metode Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A.‎ Latar Belakang.‎ Pada hakikatnya dalam pendidikan akan mencakup berbagai kegiatan, ‎diantaranya mendidik, mengajar dan melatih. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai ‎suatu usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai. Maka dalam pelaksanaannya, Agar ‎prosese transformasi nilai berjalan secara lancar maka ada beberapa syarat yang harus ‎dipenuhi, salah satunya yaitu adanya metode pendidikan yang sesuai dengan ‎kemampuan pendidik dan peserta didik, sesuai dengan materi serta tujuan yang akan ‎dicapai dan sesuai dengan situasi dan kondisi dimana pendidikan berlangsung.‎ Islam pun memberi petunjuk mengenai berbagai macam metode dalam ‎mendidik. Bahkan Rasul saw. sejak awal sudah mencontohkan dalam ‎mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya. ‎Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan ajaran ‎Islam. Rasul saw. sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter seseorang, ‎sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Rasulullah saw. juga sangat ‎memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau mampu menjadikan mereka ‎suka cita, baik meterial maupun spiritual.‎ Dengan demikian, makalah ini akan membahas hadits – hadits yang ada ‎kaitannya dengan metode pendidikan yang pernah diajarkan dan diamalkan oleh ‎Rosulullah SAW.‎ B.‎ Rumusan Masalah.‎ Sesuai dengan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini ‎adalah :‎ ‎1.‎ Bagaimana perspektif hadits tentang metode pendidikan?‎ C.‎ Tujuan Penulisan. ‎ Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini ‎adalah :‎ ‎1.‎ Untuk mengetahui perspektif hadits tentang metode pendidikan?‎ D.‎ Manfaat Penulisan.‎ Makalah ini nantinya diharapkan mampu memberi manfaat secara teoritis dan ‎praktis. Secara teoritis, hasil makalah ini bermanfaat pada kajian teoritis. Dan secara ‎praktis, makalah ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahui bagi ‎pembaca.‎ BAB II PEMBAHASAN A.‎ Pengertian Metode Belajar Mengajar.‎ Muhammmah Athiyah al- Abrasyi mengartikan metode sebagai jalan yang ‎dilalui untuk memperoleh peserta didik.‎ ‎ Sedangklan menurut Abd Al – Azis ‎mengartikan metode adalah cara – cara yang digunakan untuk memperoleh informasi, ‎pengetahuan, pandangan, kebiasaan berfikir, serta cinta kepada ilmu, guru dan ‎sekolah.‎ Tujuan adanya suatu metode belajar mengajar adalah menjadikan proses belajar ‎mengajar ajaran islam lebih berdaya guna dan berhasil guna serta menimbulkan gairah ‎belajar peserta diduk secara mantap atau peserta didik tidak menjadi jenuh dengan ‎porses pembelajaran yang hanya itu – itu saja.‎ B.‎ Hadits Tentang Belajar Mengajar.‎ Hadits 1.‎ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَارُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ‏ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ‏ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا Artinya :‎ ‎“Hadits dari Abdat bin Abdillah Shafar dari Abdul Shomad katanya dari Abdullah bin ‎Mutsanna dari Tsumamah bin Abdullah dari Annas Bahwa apabila Nabi Muhammad ‎SAW mengucapkan suatu ucapan biasanya mengulanginya tiga kali hingga dapat ‎dipahami dan apabila beliau meminta ijin untuk memasuki rumah, Beliau memberi ‎salam tiga kali.”‎ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ‏عَمْرٍو قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ سَافَرْنَاهُ فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا ‏الصَّلَاةَ صَلَاةَ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ وَيْلٌ ‏لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا Artinya :‎ ‎“Hadis Musaddad ibn Musarhad hadis Yahya dari Bahzâ ibn Hâkim, katanya hadis ‎dari ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang ‎yang berbicara dan berdusta agar orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya, ‎kecelakaan baginya.”‎ Tahrij Al-Hadits.‎ Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhori. Haits ini termaktub alam shahih al ‎Bukhori dengan namor urut hadits (NUH) 93 dan 92. Sanad hadits ini adalah marfu’, ‎muttashil dan derajatnya adalah shahih.‎ Butir – Butir Kandungan Hadits diatas adalah :‎ Dalam menjelaskan materi hendaknya seorang guru tiak hanya menyampaikan ‎sekali saja, namun berulang – ulang agar mampu dipahami peserta didik dengan benar. ‎ Hadits 2.‎ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ ‏الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ ‏أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ ‏فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا Artinya: ‎ Hadis dari Abdullah ibn Yusuf, katanya Malik memberitakan pada kami dari Amir ibn ‎Abdullah ibn Zabair dari ‘Amar ibn Sulmi az-Zarâqi dari Abi Qatadah al-Anshâri, ‎bahwa Rasulullah saw. salat sambil membawa Umâmah binti Zainab binti Rasulullah ‎saw. dari (pernikahannya) dengan Abu al-Ash ibn Rabi’ah ibn Abdu Syams. Bila ‎sujud, beliau menaruhnya dan bila berdiri beliau menggendongnya. (al-Bukhari, 1987, ‎I: 193) ‎ Tahrij Al-Hadits.‎ Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhori. Haits ini termaktub alam shahih al ‎Bukhori dengan namor urut hadits (NUH) 193. Sanad hadits ini adalah marfu’, ‎muttashil dan derajatnya adalah shahih.‎ Asbabul Wurud.‎ Menurut al-Asqalâni, ketika itu orang-orang Arab sangat membenci anak ‎perempuan. Rasulullah saw. memberitahukan pada mereka tentang kemuliaan ‎kedudukan anak perempuan. Rasulullah saw. memberitahukannya dengan tindakan, ‎yaitu dengan menggendong Umamah (cucu Rasulullah saw.) di pundaknya ketika ‎salat. Makna yang dapat dipahami bahwa perilaku tersebut dilakukan Rasulullah saw. ‎untuk menentang kebiasaan orang Arab yang membenci anak perempuan. Rasulullah ‎saw. menyelisihi kebiasaan mereka, bahkan dalam salat sekalipun.‎ Butir – Butir Kandungan hadits.‎ Nilai – nilai poral atau pesan yang terkandug dalam suatu materi pembelajaran ‎dapat ditransferkan melalui pemberian contoh – contoh tindakan yang sederhana ‎secara langsung.‎ Hadits 3.‎ حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ ذَرٍّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ ‏جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ إِنِّي أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبْ الْمَاءَ فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ ‏الْخَطَّابِ أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فِي سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ فَذَكَرْتُ ‏لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ‎ ….‎ Artinya: ‎ ‎“Hadis Adam, katanya hadis Syu’bah ibn Abdurrahmân ibn Abzâ dari ayahnya, ‎katanya seorang laki-laki datang kepada Umar ibn Khattâb, maka katanya saya ‎sedang janabat dan tidak menemukan air, kata Ammar ibn Yasir kepada Umar ibn ‎Khattâb, tidakkah anda ingat ketika saya dan anda dalam sebuah perjalanan, ketika itu ‎anda belum salat, sedangkan saya berguling-guling di tanah, kemudian saya salat. ‎Saya menceritakannya kepada Rasul saw. kemudian Rasulullah saw. bersabda: ‎‎”Sebenarnya anda cukup begini”. Rasul memukulkan kedua telapak tangannya ke ‎tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya pada wajah.(al-Bukhari, I: ‎‎129).‎ ‎ Tahrij Al-Hadits.‎ Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhori. Haits ini termaktub alam shahih al ‎Bukhori dengan namor urut hadits (NUH) 129. Sanad hadits ini adalah marfu’, ‎muttashil dan derajatnya adalah shahih.‎ Butir – Butir Kandungan Hadits.‎ ‎1.‎ Dalam beberapa hal materi akan lebih mudah diserap atau diterima oleh peserta ‎didik jika langsung dipraktekkan atau dicontohkan.‎ ‎2.‎ Jika murid melakukan kesalahan hendaknya guru mengingatkan dengan lembut.‎ BAB III ANALISIS HADITS A.‎ Uraian Analisis HADITS I Tentang Kaitannya Dengan Metode Belajar Mengajar.‎ Pada hadits pertama ini berkaitan dengan penggunaan metode Ceramah dalam ‎belajar mengajar, karena hadits ini lebih menekankan pada penyampaian materi secara ‎lisan dengan diulang – ulang. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Prof. Dr. ‎Abdul Mujid, M.Ag dan dr. Jusuf Mudzakkir, M.si bahwa implikasi teknik ceramah ‎dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan secara lisan oleh seorang pendidik ‎terhadap peserta didiknya.‎ Pengajaran adalah suatu usaha untuk mentranformasikan nilai – nilai agama, nilai ‎kebudayaan, penegetahuan dan keterampilan, maka proses pembelajaran harus ‎dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami ‎secara utuh.‎ Metode ceramah ini merupakan metode yang paling murah dan paling mudah ‎digunakan dalam pembelajaran didalam kelas terlepas dari segala kekuragannya. Metode ‎ini ekonomis dan efektif untuk keperluan penyampaian informasi dan pengertian.‎ ‎ Namun ‎perlu diingat bahwa penyampaian materi sangat dipengaruhi oleh tingkat ingatan dan ‎pemahaman tiap peserta didik serta perkembangan seseorang, untuk itulah penggulangan ‎sangat diperlukan.‎ Menurut Dr. Abdurrahman Saleh Abdullah, pada saat peserta didik memerlukan ‎penggulangan atau saat guru melakukan penggulangan, maka aplikasinya tidak perlu ‎meniru atau menggulangi dengan cara yang sama dengan sebelumnya, karena ‎penggulangan yang dipadukan dengan ilustrasi – ilustrasi atau hal – hal yang baru akan ‎lebih produktif ketimbang hanya pengulangan yang akan membosankan.‎ B.‎ Uraian Analisis HADITS II Tentang Kaitannya Dengan Metode Belajar Mengajar.‎ Hadits ini adalah haditis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori. Jika ‎dikaitkan dengan metode belajar mengajar hadits ini menjelaskan tentang penggunaan ‎metode Keteladanan. ‎ Menurut Prof. Dr. Abdul Mujid, M.Ag dan dr. Jusuf Mudzakkir, M.si, pada fase – ‎fase tertentu, peserta didik memiliki kecenderungan belajar lewat peniruan terhadap ‎kebiasaan dan tingkah laku orang disekitarnya.‎ ‎ Hamd, mengatakan bahwa pendidik itu ‎besar di mata anak didiknya, apa yang dilihat dari gurunya akan ditirunya, karena anak ‎didik akan meniru dan meneladani apa yang dilihat dari gurunya, maka wajiblah guru ‎memberikan teladan yang baik. (al-Hamd, 2002: 27). ‎ Memperhatikan kutipan di atas dapat dipahami bahwa keteladanan mempunyai arti ‎penting dalam mendidik, keteladanan menjadi titik sentral dalam mendidik, kalau ‎pendidiknya baik, ada kemungkinan anak didiknya juga baik, karena murid meniru ‎gurunya. Sebaliknya jika guru berperangai buruk, ada kemungkinan anak didiknya juga ‎berperangai buruk. ‎ Rasulullah saw. merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan ‎melalui tindakannya dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata. ‎Bagaimana memuja Allah swt., bagaimana bersikap sederhana, bagaimana duduk dalam ‎salat dan do’a, bagaimana makan, bagaimana tertawa, dan lain sebagainya, menjadi acuan ‎bagi para sahabat, sekaligus merupakan materi pendidikan yang tidak langsung. Mendidik ‎dengan contoh (keteladanan) adalah satu metode pembelajaran yang dianggap besar ‎pengaruhnya.‎ Biasanya seni mendidik dengan memberikan contoh dengan tindakan yang ‎dilakukan langsung oleh guru atau orang tuanya akan lebih memberikan kesan yang ‎mendalam pada diri peserta didik,‎ ‎ dan kadang tanpa disadari akan ditiru dan dilakukan ‎oleh mereka.‎ C.‎ Uraian Analisis HADITS III Tentang Kaitannya Dengan Metode Belajar Mengajar.‎ Pada hadits III ini berkaitan dengan penggunaan metode Eksperimen atau Praktek. ‎Para pendidik dapat menjadikan hadits ini sebagai petunjuk dalam mendidik anak – ‎anaknya melakukan perbuatan secara praktis. Jika peserta didik salah dalam melakukan ‎suatu hal hendaknnya guru tidak hanya menyalahkan dan memberitahu saja, namun ‎dengan memberikan contoh tindakan atau cara yang benar.‎ ‎ ‎ Yang di maksud dengan Metode Demonstrasi ialah metode mengajar dengan ‎menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan ‎bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu pada siswa.‎ Untuk memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat di lakukan oleh ‎guru atau anak didik itu sendiri. Metode Demonstran cukup baik apabila di gunakan ‎dalam penyampaian bahan pelajaran fiqih, misalnya bagaiamana cara berwudu, shalat, ‎memandikan orang mati, tawaf pada waktu haji,dan yang lainnya.‎ Dengan memberi latihan praktis dalam melakukan suatu hal yanh mudah ‎dicontohkan, anak – anak akan dapat melakukan pekerjaan yang dibebankan kepadanya ‎dengan baik dan benar sesuai dengan pengalaman yang diperoleh dan dilihatnya.‎ BAB IV PENUTUP A.‎ Simpulan Mengingat pembelajaran merupakan hal yang sangat sulit karena merupakan proses ‎mentrasformasikan nilai-nilai dalam diri peserta didik, maka diperlukan suatu jalan, ‎cara atau seni akan proses tersebut dapat terjadi dengan baik.‎ Rosulullah SAW dalam menggunakan suatu metode sangat memperhatikan situasi, ‎kondisi dan karakter seseorang serta memperhatikan kesesuaian materi dengan ‎penggunaan metodenya.‎ Mengenai hal tersebut Rosulullah sudah mengajarknnya melalui hadits- hadits beliau ‎yang shahih. Misalnya saja hadits yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhori diatas ‎tentang metode pendidikan yaitu penggunaan metode ceramah, keteladanan, dan ‎metode demonstrasi atau praktis.‎ Kemudian Rosulullah dalam menyampaikan materi yang menggunakan metode ‎ceramah, biasanya selalu mengulanginya agar para peserta didik menjadi paham. Selain ‎itu rosulullah juga menekankan keteladaan danam penyampaian materi dan ‎menggunakan latihan praktis agar lebih mudah diserap oleh peserta didik.‎ DAFTAR PUSTAKA Abdul Mujib dan Jusuf mudzakkir , Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana Prenada ‎Media, 2010, Cet. III, ‎ Abdurrohman Saleh Abdullah, Teori – Teori Pendidikan Berdasarkan AL-Qur’an, ‎Jakarta:Rineka Cipta, 2005, Cet.III.‎ Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009, ‎Cet. XIII http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/metode-demonstrasi-dan-eksperimen.html# ‎ixzz28z4Er6ffAbdul Mujib dan Jusuf mudzakkir , Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana ‎Prenada Media, 2010, Cet. III, ‎ http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/metode-demonstrasi-dan-eksperimen.html# ‎ixzz28z4Er6ff Imam Azzabidi, Ringkasan hadits Shahih Al Bukhori,Jakarta : Pustaka Imani, 2002‎ Muhammad Thalib, Seni dan Sikap Islami Mendidik Anak, Yogjakarta : Ma’alimul Usroh,2001‎ ‎ ‎

2 komentar:

PEMANFAATAN BAHAN BEKAS DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR TIGA DIMENSI DI SD*

*Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Kurikulum Pendidikan Dasar oleh dosen pengampu Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd. di P...