A. At Tawasuth.
Dalam tubuh NU terdapat karakteristik khas warga Nahdlatul Ulama yang menbedakannya dengan warga lain. Nahdlatul Ulama didirikan untuk melestarikan ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yang murni sebagaimana diajarkan oleh Rosulullah SAW.
Disebutkan oleh KH Ahmad Shiddiq dalam buku Khittah Nahdliyyah, ada tiga istilah untuk menggambarkan karakteristik agama Islam, yang kemudian diadopsi sebagai karakteristik khas warga Nahdlatul Ulama, yaitu : at-Tawasuth, al-I’tidal dan at-Tawazun.
At Tawasuth yang berarti pertengahan. al-I’tidal berarti tegak lurus, tidak condong ke kanan–kananan dan tidak condong ke kiri–kirian, dan at-Tawazun berarti keseimbangan, tidak berat sebelah, tidak berlebihan suatu unsur atau kekurangan unsur yang lain.
Dari berbagai sumber lain, seperti naskah Khittah NU Keputusan Muktamar XXVII NU dan beberapa buku karya KH Abdul Muchid Muzadi. Ada empat karakter khas kemasyarakatan warga Nahdlatul Ulama, pertama Tawasuth dan al-I’tidal, kedua at-Tawazun, ketiga sikap Tasamuh yang artinya toleransi terhadap perbedaan pandangan, dan ke empat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
At-tawasuth (termasuk al-I’tidal dan at-Tawazun) bukan serba kompromistik dengan mencampuradukkan semua unsur (sinkretisme). Juga bukan mengucilkan diri dari menolak pertemuan dengan unsur apa–apa. Karena karakter bagi Islam adalah memang sejak semula Allah SWT. Sudah meletakkan di dalam Islam segala kebaikan, dan segala kebaikan itu pasti terdapat di antara ujung Tatharruf (التطرف ), sifat mengujung, ekstrimisma.
Anggapan mengabungkan semua karakter lainnya dengan karakter at-tawasuth, bahwa secara konteks semua kata–kata tersebut memang ujungnya pada maksud yang sama yaitu menempatkan diri di tenggah–tengah dalam menghadapi sesuatu. Namun tetap saja dari semua karakter tersebut ada sekat–sekatnya.
At-Tawasuth berasal dati kata Wasathan (وسطا) yang berarti pertengahan. Kata tersebut diambil dari firman Allah Qs. Al Baqarah Ayat 143,
• •• ) ﺍﻠﺒﻗﺮﺓ : ١٤٣(
“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan yang (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu sekalian ....”(QS. Al-Baqarah : 143)
Al Munawwir menyatakan kata Wasathan (وسطا) artinya tengah–tengah. Dan terdapat makna yang sama dalam Kamus Al Qalam karya Ahmad Sya’bi, kata Wasathan (وسطا) diartikan sebagai pertengahan.
Khittah NU Keputusan Muktamar XXVII NU, Nomor 02/MNU-27/1984 menyebutkan bahwa sikap (karakter) at-Tawasuth dan i’tidal memiliki pengertian sebagai sikap tengah yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah–tengah kehidupan bersama.
Menurut Abdul Muzid Muzadi selaras dengan yang termaktub dalam naskah Khittah NU, bahwa karakter at-Tawasut disandingkan dengan karakter i’tidal yang memiliki arti sikap tengah dan tegak lurus, berintikan keadilan dan tidak ekstrim.
Karakter at-tawasuth ini harus mampu dimanifestasikan dalam berbagai bidang, agar nantinya sikap dan tingkah laku umat Islam dapat dijadikan sebagai teladan dan ukuran manusia pada umumnya. Karena Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat ekstrim.
Untuk itulah karakter at-Tawasuth, merupakan karakter agama Islam yang paling essensial. Maka semua warga Nahdlatul Ulama berpendirian faham Ahlussunnah Wal Jama'ah harus diterapkan dalam tata kehidupan nyata di masyarakat dengan serangkaian sikap yang bertumpu pada karakter at-Tawasuth dan i’tidal.
Diungkapkan oleh M. Nur Hasan,MA dalam bukunya Ijtihad Politik NU, bahwa prinsip tawasuth (moderasi) mengorientasikan sikap, tindakan dan sifat–sifat manusia maupun masyarakat selalu dalam kadar yang tepat. Penempatan tersebut dilakukan dalam semua segi, baik secara sosial, budaya, cara menuntut ilmu, dan politik bahkan dalam kemasyarakatan.
Alfandienk menyebutkan, karakter at-tawasuth dapat juga dijadikan sebagai landasan dan bingkai yang mengatur bagaimana seharusnya kita mengarahkan pemikiran kita agar tidak terjebak dalam agama an rich. Dengan cara menggali dan menglaborasi dari dengan berbagai metodologi dan pemikiran ilmu baik dari Islam maupun Barat, serta mendialogkan agama, filsafat dan sains.
Diungkapkan lebih lanjut oleh Nur Hasan, bahwa kadar moderasi atau ekstrimnya suatu tindakan, sikap, paham dan pandangan seseorang atau kelompok mengenai hal tertentu diandaikan begitu saja telah menjadi kesadaran individu maupun masyarakat, tetapi bagi NU, kesadaran seperti itu harus ditanamkan melalui pendidikan dan latihan yang kontinyu. Diharapkan nanti penanaman yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi suatu yang mengakar dalam diri warga NU dan menjadikan suatu karakter yang secara spontan dan sulit untuk ditinggalkan.
Jadi berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa berkarakter At Tawasuth, berarti dia mampu membawa dirinya untuk selalu mengambil jalan tengah, tidak condong kanan dan kiri dalam bertindak, dan juga memiliki sikap di tengah–tengah.
Sikap seperti ini sangat dibutuhkan dan sangat penting dimiliki oleh orang Indonesia, di mana masyarakatnya masih belum mampu bersikap profesional dalam berbagai hal. Mereka lebih mementingkan diri sendiri dan keluarganya daripada kepentingan umum, sehingga mereka belum mampu membawa diri dan sikapnya di tengah–tengah dalam menghadapi berbagai persoalan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PEMANFAATAN BAHAN BEKAS DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR TIGA DIMENSI DI SD*
*Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Kurikulum Pendidikan Dasar oleh dosen pengampu Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd. di P...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Remaja merupakan hal yang sangat menarik untuk dibahas, sendiri memiliki karakteristik emosi ya...
-
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dap...
-
METODE SOSIODRAMA DAN BERMAIN PERAN A. HAKIKAT SOSIODRAMA Pengertian Metode Sosiodrama Kata sosiodrama berasal dari dua kata, yakni sosio...
tlng kasih sumber neng kalau mosting biar q jadikan bahan referensi buletin,. hehe
BalasHapusPluginnya bagus
BalasHapus